Langsung ke konten utama

Cerita Prajurit

Cerita si prajurit.
Yang sudah diatur jalannya sejak lama dan hanya bisa iya tanpa geleng kepala meski tak suka.
Cerita si prajurit.
Yang sudah lama mengelus dada, menahan luka.
Hingga suatu ketika ia merasa ini saatnya untuk tidak karena sudah lelah dicokok saja.
Si praurit membantah. Ia menantang. Ia merasa ini tidak benar.
Ia meluapkan apa yang dirasa yang selama ini jadi mimpi saja.
Si penguasa terhenyak, iba mungkin saja.
Penguasa memutuskan tak lagi meminta apa-apa. Entah karena sadar atau kecewa.
Penguasa membiarkan si prajurit memilih jalan yang mana.
Namun naasnya, saat si prajurit memutar otaknya untuk menemukan jalan mana yang seharusnya
Ia tersadar.
Ia tersadar akan sesuatu yang datang, yang lebih mengerikan.
Si prajurit, tak lagi tau inginnya apa.
Si prajurit, tak lagi bisa menentukan mana yang ia suka.
Si prajurit, takut melangkah membuka jendela.
Si prajurit, ternyata buta.
Tak tahu apa-apa.
Tak tahu mana-mana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pikirku Keliru

Ku pikir akhirku kamu. Ternyata tak lebih dari seorang penipu. Ku pikir akhirku kamu. Ternyata cuma seorang pemberi harap palsu. Tak mampu otakku mencerna, bagaimana bisa dengan teganya kamu meluka. Menyingkirkanku seakan hama. Lalu tiba-tiba datang menggugah rasa. Lalu pergi lagi sesukanya. Tak lagi tahu aku bagaimana harusnya. Mendendam atau biasa saja ? Ku doakan kamu sadar, bahwa karma itu ada . Sakitku yang sangat tidak biasa, ku doakan nanti kamu juga merasa .

Aku (dan perasaanku)

Aku mencintai kamu. Dengan sungguh dan seluruh. Aku menginginkan kamu. Utuh dan penuh. Tapi kenapa sepertinya hanya aku yang ingin? Kenapa sepertinya hanya aku yang berusaha bertahan dan ingin tetap mengusahakan? Apa hanya aku (dan perasaanku) yang tersisa? Aku merindukan kamu yang dulu memberi semangat dan menguatkan. Aku merindukan kamu yang dulu memelukku erat saat aku merasa sekarat. Aku merindukan kamu yang dulu mengusahakan apapun, agar aku dan kita baik. Sudahkah kamu lelah? Sudahkah kamu berhenti? Lupakah kamu dengan semua impian kita? Atau hanya aku (dan perasaanku) saja yang bermimpi? Aku menunggu kamu kembali.  Pulang.

Perihal Kamu