Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

Aku (dan perasaanku)

Aku mencintai kamu. Dengan sungguh dan seluruh. Aku menginginkan kamu. Utuh dan penuh. Tapi kenapa sepertinya hanya aku yang ingin? Kenapa sepertinya hanya aku yang berusaha bertahan dan ingin tetap mengusahakan? Apa hanya aku (dan perasaanku) yang tersisa? Aku merindukan kamu yang dulu memberi semangat dan menguatkan. Aku merindukan kamu yang dulu memelukku erat saat aku merasa sekarat. Aku merindukan kamu yang dulu mengusahakan apapun, agar aku dan kita baik. Sudahkah kamu lelah? Sudahkah kamu berhenti? Lupakah kamu dengan semua impian kita? Atau hanya aku (dan perasaanku) saja yang bermimpi? Aku menunggu kamu kembali.  Pulang.

Cerita Patah Hati

Kamu pernah mengalami patah hati? Aku pernah. Saat ini. Aku mengalami patah hati yang sepatah-patahnya. Aku kehilangan sesuatu yang ku pikir memang milikku. Aku kehilangan sesuatu yang sedang aku jaga erat. Aku kehilangan sesuatu yang sangat aku cintai. KAMU. KITA. Ya! Aku kehilangan kamu. Aku kehilangan kita. Kejadian yang tidak pernah aku prediksikan. Bahkan tidak sekalipun aku bayangkan. Ya, aku patah sekarang.  Bukan! Aku bukan hanya patah. Aku adalah kepingan yang nyaris jadi bubuk. Aku mengutuk perpisahan ini. Aku membenci takdir kita yang begini. Aku kesal. Marah. Entah berapa doa yang aku minta pada Tuhan dengan paksa agar ini semua diperbaiki. Tapi sudah tak ada guna. Hatiku tetap patah dan kita tetap akan menjadi aku dan kamu. Aku memang tidak ikhlas. Tapi aku telah menyerah. Aku kalah.

Sepi dan Malam

Kamu tahu betul, aku banyak berkarib dengan sepi. Aku tidak terlalu gembira di tengah hiruk pikuk. Aku tidak terlalu suka di antara banyak manusia. Aku lebih suka berada di lingkaran dengan sedikit kepala. Hanya aku dan kamu saja contohnya. Aku lebih suka membagi keluh kesah hanya dengan satu kepala. Kamu. Selebihnya aku lebih suka berbagi dengan sepi dan tulisan. Namun mendadak hal itu berubah, semenjak aku dan kamu bukan lagi kita. Aku tidak nyaman lagi bersantai di dalam sepi. Aku pun semakin membenci malam, bukan karena tidak adanya kamu yang menemani aku tidur. Tapi entah kenapa, malam selalu mengundang semua kenangan. Menghancurkan pertahanan yang susah payah ku bangun sejak pagi. Membutakan rasionalku dan mengundang kenangan kita berlenggang tanpa peduli jika ia berhasil mengembunkan mataku. Ya. Semenjak kita tak ada, malam menjadi suatu masa yang mengerikan. Semenjak kita tak ada, aku mulai sibuk mencari cara mengusir sepi. Semenjak kita tak ada, aku mati.